6 Tahapan Penting Dalam Pengolahan Beton Salah satu proses penting dalam proyek pembangunan adalah proses pengolahan beton. Proses ini harus dilakukan agar benar-benar memperoleh hasil yang benar-benar berkualitas. Pengolahan beton meliputi beberapa tahapan yakni pencampuran atau pengadukan bahan-bahan beton, pengangkutan atau pemindahan adukan beton, penuangan adukan beton, memadatkan adukan beton, meratakan permukaan beton dan perawatan beton. Tentu saja dalam proses ini dibutuhkan alat-alat agar setiap tahapan pekerjaan bisa berlangsung lebih mudah dan cepat. Selain itu, komposisi campuran untuk pembuatan beton juga harus tepat untuk mendapatkan kekuatan yang diharapkan. Pencampuran atau Pengadukan Bahan-bahan Beton Pada dasarnya beton dibuat dengan mencampurkan tiga bahan utama yakni semen, agregat, dan udara. Untuk agregat, terdapat dua macam agregat yang umum digunakan yaitu kerikil sebagai agregat kasar dan pasir sebagai agregat halus. Selain bahan ketiga, ada kalanya dicampurkan pula zat, contohnya saja zat aditif untuk campuran beton, zat aditif agar beton tahan air, zat aditif agar beton cepat kering dan zat aditif sejenis lainnya. Adapun komposisi material adukan beton dalam setiap 1m 3 telah diatur berdasarkan standar SNI 7394: 2008. Contohnya saja beton mutu K 125 komposisi materialnya terdiri dari semen 276 kg, pasir 828 kg, kerikil 1.012 kg, dan air 215 kg. Beton mutu K 125 adalah beton klas E yang dipakai untuk konstruksi lantai dasar. Dalam jumlah kecil, pengadukan bahan-bahan beton dapat dilakukan dengan mengandalkan tenaga kerja yang ada. Tetapi untuk meningkatkanan dalam jumlah besar, tentunya dibutuhkan alat bantu. Alat bantu ini membuat hasil adukan material beton lebih merata, sempurna, dan tentunya lebih cepat. Alat pengaduk beton atau yang dikenal dengan istilah molen ini ada yang berupa mesin statis, semi mobile dan full mobile atau mixer truck. Pengangkutan atau Pemindahan Adukan Beton Bila material-material beton sudah diaduk hingga rata, tahapan selanjutnya adalah memindahkan adukan beton tersebut ke tempat penuangannya. Proses ini harus dilakukan dengan cepat sebelum semen bereaksi dengan udara. Untuk skala kecil, adukan beton bisa diangkut dengan menggunakan ember atau gerobak dorong. Sedangkan untuk skala besar, adukan beton biasanya diangkut dengan menggunakan truk aduk beton, pompa atau dengan menggunakan ban berjalan. Jika jarak antara lokasi pengadukan beton dan menuangan cukup jauh, umumnya alat bantu yang digunakan adalah truk aduk beton. Sementara itu bila tempat penuangan yang cukup tinggi, dapat digunakan pompa. Pada pembangunan gedung bertingkat banyak, adukan beton biasanya dipindahkan dengan bantuan derek. Penuangan Adukan Beton Hasil beton yang baik diperoleh dari cara penuangan adukan beton yang benar. Proses penuangan harus dilakukan dengan cepat sehingga adukan beton selalu dalam kondisi plastis dan dapat mengalir dengan lancar sampai ke rongga antara tulangan. Penuangan ini mulai dari sudut-sudut bekisting terendah. Adukan beton tak boleh dimasukkan ke bekisting dengan jarak lebih dari 2 m. Jika melebihi jarak maksimum 2 m, maka dapat mengakibatkan segregasi. Gunakan tremi atau corong bila jarak melebihi maksimum. Bila saat penuangan dalam kondisi hujan yang deras, sebaiknya hindari menuangkan adukan beton tanpa menggunakan penutup di bagian atasnya. Sebab air hujan yang masuk bisa membuat kualitas beton menjadi menurun. Karena itu perlu disiapkan jika proses pengerjaan beton berlangsung di musim hujan. Jika proses penuangan beton sudah dimulai, maka proses ini tidak boleh berhenti hingga selesai penuangan pada suatu penampang. Permukaan atas harus terisi penuh dan rata dengan campuran beton untuk mendapatkan kualitas beton yang benar-benar kokoh. Memadatkan Adukan Beton Tahapan berikutnya setelah penuangan adukan beton adalah memadatkan adonan yang sudah dituang. Tahapan ini bertujuan untuk menghilangkan udara yang terjebak di dalam adukan beton. Jika dibiarkan, udara yang terjebak tersebut akan menyebabkan beton menjadi keropos. Pemadatan ini dilakukan segera setelah proses penuangan selesai dilakukan dan adukan beton masih dalam keadaan plastis. Pemadatan bisa dilakukan dengan menusuk-nusuk tuangan beton atau dengan penggetaran. Saat ini sudah tersedia alat bantu yang dirancang khusus untuk mendukung proses pemadatan beton. Alat bantu yang disebut vibrator beton atau vibrator beton ini mampu menghasilkan getaran di seluruh permukaan beton pada radius tertentu adukan beton benar-benar padat tanpa ruang udara yang terjebak. Ratakan Permukaan Beton Jika proses pemadatan beton telah selesai dilakukan, pekerjaan dilanjutkan dengan meratakan permukaan beton. Secara sederhana, proses perataan permukaan beton bisa dilakukan dengan menggunakan cetok dan juga papan perata. Sementara itu untuk meratakan permukaan lantai cor dengan cepat, dapat digunakan alat bantu seperti power trowel . Alat bantu ini berfungsi meratakan permukaan lantai cor dalam kondisi kering 75%. Perawatan Beton Inilah tahapan akhir dalam pengolahan beton yakni perawatan beton. Perawatan ini perlu dilakukan agar proses reaksi semen dan air berlangsung dengan baik. Adapun perawatan yang dikerjakan adalah dengan menjaga agar permukaan beton lembab hingga proses reaksi waktu yang ditentukan yakni kurang lebih 28 hari. Jika permukaan beton tidak dijaga kelembabannya, maka kandungan udara pada campuran beton akan keluar sehingga pada akhirnya kualitas beton menjadi atau muncul retak-retak di permukaannya. Kelembaban bisa dijaga dengan cara menyirami permukaan beton, menggenangi permukaan, atau meletakkan karung basah di permukaan beton. Nah, itulah tahapan-tahapan penting dalam pengolahan beton yang penting untuk diperhatikan. Setiap tahapan harus dikerjakan dengan cermat agar diperoleh kualitas beton yang benar-benar kokoh dan kuat.
6 Tahapan Penting Dalam Pengolahan Beton